Hukum Tidak Menunaikan Shalat Jum'at

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh... Pembaca yang aku sayangi, kita harus selalu beryukur kepada Allah SWT karena kita selalu diberi nikmat dan ke-istimewaan setiap harinya dan  terutama di hari jumat. Kenapa di hari jumat menjadi lebih istimewa? karena di hari itu Allah SWT memerintahkan hambaNya (laki-laki) untuk meninggalkan segala aktivitas yang dilakukan agar mereka melakukan ibadah Shalat Jum'at, sebagaimana yang telah dijelaskan Allah SWT didalam firmannya:


"Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah, dan tinggalkanlah jual beli yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS: Al-Jumuah ayat 9).

Jelas dari ayat tersebut terdapat perintah untuk meninggalkan transaksi jual beli sejak dikumandangkannya adzan Jum'at. Mayoritas Ulama dari Mazab Malikia Syafi'iah dan Hambali berpendapat bahwa, hukum jual beli yang dilakukan sejak adzan Jum'at berkumandang adalah haram, sementara pendapat dari ulama Hambali adalah makruh. Dikhususkannya jual beli dibanding aktivitas lainnya karena pekerjaan inilah yang paling banyak digeluti dan paling sering menyibukkan seseorang sehingga sering kali menyebabkan sesorang lalai dari melaksanakan ibadah shalat Jum'at. Namun terjadi kilafia diantara kalangan ulama terkait aktivitas yang dilarang, apakah hanya sebatas transaksi jual beli saja ataukah aktivitas lain juga dilarang? Dalam hal ini, mayoritas ulama berpendapat segala bentuk transaksi yang bisa menyibukkan orang dari shalat, seperti halnya dengan jual beli semua haram dilakukan. Sementara Mazab Hambali berpendapat lain, yakni tidak menyamakan segala bentuk transaksi lainnya dengan transaksi jual beli. Argumentasi mayoritas ulama tersebut ialah mempertimbangkan makna dari sebab perintah dilarangnya jual beli, yakni bermakna meninggalkan segala seuatu yang dapat memalingkan dari aktivitas Zikrullah atau mengingat Allah. Imam Alqurtubi dalam Al-Jamili'ah Kamil Qur'an mengatakan bahwa materi jual beli bukanlah substansinya, sesungguhnya yang menjadi substansi adalah apa yang menyibukkan seseorang sehingga ia lupa dari Zikrullah. Disebutkannya kata buy atau jual beli  karena dia yang paling sering menyibukkan dari zikrullah ta'ala. Namun larangan ini tidak berlaku bagi jual beli yang dilakukan dua wanita atau dua anak-anak yang tidak wajib melaksanakan shalat Jum'at. Berbeda halnya jika salah satu yang melakukan jual beli adalah yang diwajibkannya atasnya shalat Jum'at, maka keduanya berdosa karena saling tolong-menolong dalam perbuatan dosa. Sebagaimana firman Allah SWT:

"Dan janganlah kalian tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan." (QS: Al-Maidah ayat 2).

Lalu bagaimana hukumnya seseorang yang meninggalkan shalat Jum'at secara sengaja? serta bagaimana pula hukumnya seseorang dikarenakan dengan pekerjaan dan harus terpaksa meninggalkan shalat Jum'at?

Shalat Jum'at adalah shalat yang wajib bagi orang yang tidak memiliki udzur. Barangsiapa meninggalkannya dia akan terjerumus dalam dosa besar. Bahkan barangsiapa yang meninggalkan shalat Jum'at sebanyak tiga kali karena meremehkan, maka hatinya akan tertutupi dan ia termasuk orang-orang yang lalai. Sebagaimana hadits Rasullullahi'alaihi wa'sallam ketika beliau memegang tongkat di mimbarnya:

"Hendaklah orang yang suka meninggalkan shalat Jum'at menghentikan perbuatannya. Atau jika tidak Allah akan menutup hati-hati mereka, kemudian mereka benar-benar akan tergolong ke dalam orang-orang yang lalai." Hadits Riwayat Muslim.

Dalam hadits lain, Rasullullahi'alaihi wa'sallam bersabda:

"Barangsiapa meninggalkan shalat Jum'at sebanyak tiga kali karena lalai terhadap shalat tersebut, Allah akan tutupi hatinya." Hadits Riwayat Ahmad, An Nasa'i, dan Abu Daud.

Lalu bagaimana jika ada orang yang tidur sebelum ibadah shalat Jum'at sehingga shalat Jum'atnya terlewatkan. Dalam kondisi seperti itu, maka orang tersebut tergolong orang yang meremehkan kewajiban syariat. Karena itu, untuk menghindari ketiduran sebaiknya seseorang harus melakukan  sesuatu usaha agar ia bangun sebelum shalat Jum'at, misalnya dengan berpesan kepada seseorang untuk dibangunkan atau menggunakan alarm, dengan begitu ia tetap bisa menjalankan ibadah shalat Jum'at dan tidak tergolong orang yang meremehkan syariat. Namun, apabila ada seseorang yang sangat mengantuk sebelum shalat Jumat, kemudian dia berusaha mengambil sebab bisa bangun sebelum shalat Jum'at namun ternyata dia tetap tidak bisa bangun maka dia tidak dalam kategori orang yang meremehkan kewajiban, sebagaimana sabda Rasullullahi'alaihi wa'sallam:

"Orang yang ketiduran tidak dianggap meremehkan." Hadits Riwayat Muslim.

Berikut ini, ada beberapa golongan orang yang tidak wajib melaksanakan shalat Jum'at dalam hadits yang diriwayatkan Abu Daud, mereka adalah golongan hambasahaya: wanita, anak-anak, dan orang sakit. Sedangkan dalam hadits lain terdapat penyebutan musafir atau orang yang dalam perjalanan jauh. Pada umumnya musafir tidak mendengar adzan, namun bila seseorang itu mendengar suara adzan, maka wajib atasnya melaksanakan ibadah shalat Jum'at. Bagi orang yang sakit atau dalam perjalanan dan tidak mendengar adzan, maka orang tersebut wajib menggantinya dengan shalat Dzuhur empat raka'at. Termasuk dalam kategori udzur syar'i atau tidak wajib melaksanakan shalat Jum'at adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pekerjaannya, pekerjaan yang dimaksud adalah pekerjaan yang apabila ditinggalkan akan mendatangkan mudharat atau bahaya besar dan tidak pula ada orang yang bisa menggantikannya, misalnya seorang dokter yang sedang menangani pasien gawat darurat dan sangat membutuhkan penanganan saat itu pula. Dalam kondisi seperti itu, maka berlakulah firman Allah SWT berikut ini:

"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu. Dan dengarlah serta taatlah; nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS: Al-Thaghabun ayat 16).

Nah, pembaca yang budiman, itulah beberapa penjelasan mengenai hukumnya tidak shalat Jum'at bagi lelaki, semoga kita tidak termasuk kedalam golongan tersebut.

Semoga uraian singkat ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hukum Tidak Menunaikan Shalat Jum'at"

Post a Comment